DARI ADUKAN SEMEN, TANAMKAN JIWA PENGABDIAN & KEBERSAMAAN

DARI ADUKAN SEMEN, TANAMKAN JIWA PENGABDIAN & KEBERSAMAAN

Sekarputih Bondowoso, Kamis (12/12/25), suasana berbeda tampak di Asrama II PP. Kunuuzul Imam Kauman, ratusan santri melakukan kerja bakti pengecoran gedung baru. Pengecoran berlangsung dari pukul 06.00 hingga pukul 12.00 WIB. Ratusan santri antusias dan melakukannya dengan penuh semangat.


Di bawah terik matahari, deru cangkul, dan adukan semen yang tak berhenti, semua bekerja serempak, bahu membahu menyelesaikan pembangunan yang berlokasi di Sekarputih Tegalampel. Tak ada sekat usia, profesi, maupun status sosial. Semua larut dalam satu semangat yang sama; pengabdian dan kebersamaan.


Kepala Otorita Pembangunan, Ust. Rofikoh, S.Pd. menyampaikan, pengecoran lantai dua ini merupakan tindak lanjut dari proses pembangunan lantai satu kemaren yang telah diresmikan pada tanggal 17 Desember bersama dewan guru dan pihak Bank BRI. “Kalau peresmian Ruang Kelas Baru kemarin itu melalui jalur bantuan BUMN, pengecoran yang sekarang ini murni dari dana mandiri,” ujarnya.


Saat diwawancarai beliau juga menyampaikan; “Satu lokal jika dengan kontruksi dua lantai, bisa memakan waktu kisaran 3 bulan, ini kita dua lokal. Kalau total biaya, untuk semen saja hari ini sudah habis 100 sak lebih, itu belum terhitung besi, pasir, kayu, dan bahan material lainnya. Jadi mulai dari awal pembangunan sampai pengecoran saat ini kisaran sudah habis Rp. 100.000.0000 (100 juta). Angka ini belum mencakup biaya tukang, satu minggu untuk biaya tukang saja itu 5 juta habis.
Beliau juga menyampaikan; “Pesantren ini luasnya kisaran 3 hektar, ke depan kami akan mengupayakan dan meneruskan cita-cita guru kita Alm. KH. Mas Ahmad Saifi Faroidl untuk terus meningkatkan sarana sebagai faktor penunjang kenyamanan santri belajar”, demikian pernyataan guru yang sekarang juga menjabat sebagai ketua Pengurus Komisariat 1 (PK) IASKA Kec. Curahdami dan Binakal tersebut.


GOTONG ROYONG DI TENGAH ARUS INDIVIDUALISME
Meski terlihat sederhana—mengangkut pasir, mencampur semen, menyusun batu—aktivitas ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Dari adukan semen itulah, nilai pengabdian dan kebersamaan ditanamkan, dirawat, dan diwariskan.
Di era serba digital dan individualistis seperti sekarang, semangat kebersamaan dan gotong royong kerap tergerus, bahkan terkikis oleh arus modernisme. Kegiatan kerja bakti ini sebagai pengingat bahwa, di Pesantren nilai-nilai kebersamaan itu terus dilakukan, tujunnya untuk mempererat silaturahmi, membangun komunikasi, dan menanamkan jiwa sosial.


DARI SEMEN MENJADI FONDASI NILAI
Ketika bangunan itu kelak berdiri kokoh, ia tak hanya menjadi struktur fisik semata. Di dalamnya tertanam nilai pengabdian, kebersamaan, dan solidaritas yang lahir dari proses bersama. Setiap lapisan semen seolah merekam cerita tentang kerja keras, keikhlasan, dan kepedulian.
Dari adukan semen yang sederhana, lahirlah fondasi kuat bagi kehidupan sosial yang harmonis. Sebuah pengingat bahwa membangun negeri tak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari kemauan untuk turun tangan dan berjalan bersama. Kegiatan ini membuktikan bahwa pembangunan bukan semata soal infrastruktur, melainkan tentang membangun manusia dan nilai-nilai luhur yang menyatukan.


PENGABDIAN DAN MENEPIS TUDUHAN FOEDALISME
Pengabdian bukanlah tentang jarak antara yang memerintah dan yang diperintah, bukan pula tentang menempatkan seseorang di atas yang lain. Pengabdian adalah kesadaran moral untuk melayani, bekerja, dan berkorban demi kepentingan bersama. Di dalam pengabdian, yang utama bukan kekuasaan, melainkan tanggung jawab.
Sering kali, pengabdian disalahpahami sebagai bentuk feodalisme—sebuah relasi kaku yang menuntut kepatuhan tanpa dialog. Tuduhan ini muncul ketika pengabdian dipandang hanya sebagai loyalitas buta. Padahal, pengabdian sejati lahir dari nilai kemanusiaan, bukan dari hierarki yang menindas. Ia tumbuh dari komitmen untuk memberi yang terbaik, bukan karena takut atau terpaksa, tetapi berangkat dari kesadaran dan keikhlasan.
Pada akhirnya, pengabdian adalah tentang merawat kepercayaan. Ketika pengabdian dijalankan dengan integritas, transparansi, dan empati, maka tuduhan feodalisme akan gugur dengan sendirinya. Foto kecil yang pembaca lihat, semakin memperjelas bahwa pesantren bukan sarang foedal, justru sebaliknya pencetak generasi bangsa yang ideal dan profesional.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top